Keberlanjutan Bisnis dan Rencana Pemulihan Bencana

Keberlanjutan Bisnis dan Rencana Pemulihan Bencana

Pemulihan bencana merupakan hal yang wajib dilakukan seluruh bisnis dalam segala ukuran. Baik untuk pelaku UKM maupun perusahaan besar, keberlanjutan bisnis memerlukan perhatian. Terlebih lagi pada era transformasi digital sekarang ini.

Keberlanjutan Bisnis

Dalam kondisi normal, manajemen operasional perusahaan sehari-hari banyak melibatkan infrastruktur teknologi informasi. Sebagaimana sejak era milenium hampir seluruh perusahaan telah menjadi digital, maka banyak hal yang perlu di pertimbangkan dalam keberlanjutan bisnis.

Keberlanjutan bisnis memerlukan perencanaan dan strategi. Berbagai skenario bencana dapat disusun bersama oleh seluruh lapisan manajemen di perusahaan. Dalam sebuah rencana keberlanjutan bisnis, tentu ada rencana pemulihan bencana di dalamnya. Perusahaan dapat mengenali tipe gangguan atau bencana, aset penting yang harus di selamatkan, dan bagaimana untuk memulihkan operasional dalam waktu kurang dari 1 jam.

Perusahaan perlu menganalisa dampak pada bisnis atau yang sering disebut sebagai BIA (Business Impact Analysis).

BIA merupakan suatu proses sistematis untuk menentukan dampak potensial apa saja yang diakibatkan oleh sebuah bencana atau gangguan. Sehingga, perusahaan mendapatkan hasil atau laporan skala prioritas terhadap aset apa saja yang perlu penanganan pada kejadian tertentu.

Analisis Dampak Bisnis dan Penilaian Risiko merupakan hal penting dalam rencana pemulihan bencana. Sebuah BIA sering terjadi sebelum penilaian risiko. BIA berfokus pada efek atau konsekuensi dari gangguan fungsi bisnis yang penting dan upaya untuk menghitung biaya keuangan dan non-keuangan yang terkait dengan bencana. Penilaian dampak bisnis terlihat pada bagian dari organisasi yang paling penting.

Dalam era transformasi digital sekarang ini, keberlanjutan bisnis bukan hanya diperlukan pada bencana saja. Banyak pengujian yang dilakukan untuk meningkatkan layanan kepada konsumen dan mengoptimalkan kinerja operasional. Hal tersebut jika tidak dilakukan secara tepat maka dapat menimbulkan gangguan pada sistem IT yang sedang berjalan.

Berdasar hal tersebut, suatu keberlanjutan usaha memerlukan dukungan rencana pemulihan bencana sebagai perluasan dari kebijakan keberlanjutan usaha (Business Continuity Plan / BCP)

Rencana Pemulihan Bencana

Dalam rencana pemulihan bencana, sebetulnya hanya ada 2 hal pokok, yakni:

  • RPO atau Recovery Point Objective

    RPO menggambarkan interval waktu yang mungkin dilewati selama gangguan sebelum kuantitas data yang hilang selama periode yang melebihi ambang batas maksimum yang diijinkan dalam Business Continuity Plan atau “toleransi.”

    Contoh: Jika data terakhir yang tersedia pada sebuah outage adalah dari 10 jam yang lalu, dan RPO untuk bisnis ini adalah 10 jam maka kita masih dalam parameter RPO Business Continuity Plan. Dengan kata lain, sampai titik berapa lama proses pemulihan bisnis dapat efektif dengan pertimbangan volume data yang hilang selama periode pemulihan tersebut.

  • RTO atau Request Time Objective

    RTO adalah durasi waktu dan tingkat layanan di mana proses bisnis harus dikembalikan setelah bencana untuk menghindari konsekuensi yang tidak dapat diterima terkait dengan putusnya operasional dalam hal kontinuitas.

    Dengan kata lain, RTO adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan – yang dapat di tolerir -dari terjadinya kelumpuhan sistem sampai pulih kembali pada sistem dan data cadangan (fail-over).

RPO menunjuk jumlah variabel data yang akan hilang atau harus dimasukkan kembali selama downtime. RTO menunjuk jumlah “real time” yang dapat berlalu sebelum gangguan mulai serius dan tidak dapat diterima karena menghambat aliran operasi bisnis normal.

RTO / RPO dan hasil Analisis Dampak Bisnis (BIA) secara keseluruhan memberikan dasar untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi yang layak untuk dimasukkan dalam rencana keberlanjutan usaha. Pilihan strategi yang layakan akan mencakup kemungkinan dimulainya proses pemulihan bisnis dalam kerangka waktu RTO / RPO. Hal ini termasuk prosedur solusi alternatif atau manual dan membutuhkan solusi disaster recovery yang sesuai dengan rencana dan strategi pemulihan bencana anda.

Sebuah BIA dapat berfungsi sebagai titik awal untuk strategi pemulihan bencana dan memeriksa tujuan waktu pemulihan (RTO) dan pengenalan titik pemulihan (RPO), dan sumber daya serta apa saja yang dibutuhkan untuk kelangsungan bisnis.

Dengan solusi disaster recovery yang tepat, perusahaan dapat lebih percaya diri dalam melaksanakan proses transformasi digital. Sebaiknya perusahaan menggandeng konsultan IT yang telah berpengalaman dalam pemulihan bencana dan memiliki track record yang jelas, seperti Elitery Indonesia yang juga memiliki data center berkelas dunia. Sehingga, bisnis anda lancar dengan minimal gangguan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s