Bank Sentral Singapura Sedang Membuat Prototipe Blockchain

Sebuah konsorsium industri yang dipimpin oleh Otoritas Moneter Singapura (MAS), Bank Sentral Singapura dan Asosiasi Bank di Singapura telah merilis kode sumber untuk tiga prototip buku besar terdistribusi.

Prototipe blockchain ini terlah berhasil digunakan untuk pembayaran antar bank. Ini ditujukan untuk mendukung upaya dalam mendorong institusi keuangan lainnya dan bank sentral Singapura untuk melakukan percobaan dengan teknologi blockchain.

Prototipe Blockchain di Bank Sentral Singapura

Pertama kali diluncurkan pada bulan November, Project Ubin adalah inisiatif MAS untuk melihat bagaimana DLT (Distributed Ledger Technology, atau Teknologi HyperLedger) dapat digunakan untuk pembukaan dan penyelesaian pembayaran surat berharga, khususnya penggunaan dalan bentuk dolar Singapura pada buku besar yang didistribusikan.

Dalam sebuah laporan yang dirilis pada bulan Oktober, bank sentral Singapura mengatakan bahwa tiga model perangkat lunak yang dikembangkan pada Tahap 2 Proyek Ubin adalah yang pertama di dunia yang menerapkan kelayakan pembayaran melalui desentralisasi dengan cara yang menjaga privasi transaksional.

scanner dokumen terbaik fujitsu ix100

Kode sumber dan dokumentasi teknis dari ketiga prototip tersebut sekarang telah dirilis untuk akses publik di bawah Apache License Version 2.0 dengan tujuan mendorong akademisi, lembaga keuangan dan bank sentral lainnya untuk menggunakan kode tersebut untuk pengujian mereka sendiri.

MAS mengatakan bahwa lembaga keuangan mungkin ingin merujuk model perlindungan privasi untuk proyek internal. Sementara bank sentral dapat menggunakan prototip tersebut untuk melakukan uji coba internal terhadap pembayaran antar bank dalam negeri.

Sopnendu Mohanty, chief fintech officer, MAS, mengatakan:

“Open-sourcing prototipe ini akan mendorong bank sentral lain untuk melakukan uji coba serupa dan menghasilkan pengembangan lebih lanjut mengenai pembayaran antar bank domestik. Kami bertujuan untuk menghubungkan sistem berbasis DLT di masa depan untuk konektivitas lintas batas yang lebih baik. Inilah kontribusi kami terhadap ekosistem keuangan global, dan langkah menuju pengembangan pembayaran lintas batas yang lebih murah, aman dan lebih efisien”.

Inisiatif ini merupakan salah satu rangkaian pengumuman dari MAS yang bertepatan dengan festival fintech selama seminggu di bank sentral Singapura.

Ini termasuk proyek pengembangan bersama dengan bank sentral Kanada dan hubungan Litbang dengan Laboratorium Media dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) untuk berbagi penelitian dan melakukan eksperimen di persimpangan teknologi ledger terdistribusi dan bidang teknologi terkait lainnya seperti komputasi kuantum dan metode baru kriptografi

MAS juga telah memamerkan kantor dan operasi Pusat Analisis Regional FS-ISAC Asia Pacific yang saat ini mendukung 49 lembaga keuangan di sembilan negara Asia Pasifik dalam berbagi informasi tentang ancaman cybercrime yang muncul.

Inisiatif lainnya mencakup penciptaan Utilitas Layanan Bersama Perbankan yang akan menyederhanakan end-to-end. Forum ini juga membahas risiko perkembangan terbaru dalam pembayaran elektronik.

IBM telah bergabung, mengumumkan keberhasilan penyelesaian Phase I proof-of-concept (POC) proyek Shared Corporate KYC (Know Your Customer) dengan Deutsche Bank, HSBC, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) dan Treasuries Cargill.

Big Blue mengatakan bahwa proyek tersebut berhasil menunjukkan bagaimana platform IBM Shared KYC berbasis blockchain menyediakan mekanisme “bank yang aman, terdesentralisasi dan efisien untuk mengumpulkan, memvalidasi, menyimpan, berbagi, dan menyegarkan informasi KYC yang terpercaya dari pelanggan korporat”.

Saran kami untuk praktisi perbankan Indonesia:

Era blockchain di 2018 semakin dekat, dan ini akan di ikuti dengan era open banking. Perbankan Indonesia harus siap dan memperkuat infrastruktur teknologi informasi mereka.

Para pimpinan bank harus memahami perkembangan teknologi perbankan akan membawa perubahan atau pergeseran pada jenis pendapatan. Dimana sebelumnya pendapatan bunga mendominasi, kedepannya, di era blockchain dimana perilaku konsumen dan efisiensi menjadi “primadona” maka penghasilan perbankan akan bergeser pada pendapatan non-bunga.

Keamanan pada institusi keuangan merupakan suatu hal yang perlu di set ulang dalam pikiran para pimpinan perbankan. Seperti Australia yang baru-baru ini mengumumkan akan berinvestasi ratusan triliun untuk keamanan sistem informasi, hal ini semata-mata ditujukan untuk mendukung kesiapan perbankan Australia dalam menghadapi era blockchain.

Teknologi digital berkembang secara eksponen, banyak pergeseran dan perubahan yang sudah terjadi. Sebelumnya, hal tersebut dianggap hanya sebagai isapan jempol, namun akhirnya telah menjadi kesadaran akan adanya tuntutan untuk beradaptasi lebih cepat.

Kebijakan pemerintah terhadap kedaulatan data dapat menahan “Serangan perkembangan teknologi” dimana kebanyakan bisnis di Indonesia belum cukup siap menghadapi perubahan dramatis yang akan terjadi di tahun 2018.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s