Hati-hati Menggunakan Aplikasi Fintech

Era digital yang semakin memudahkan masyarakat Indonesia. Aplikasi fintech dan dompet digital mulai banyak di tawarkan di Indonesia. Bahkan ada yang salesnya seperti sales rokok, dengan menghampiri setiap tamu di sebuah mall untuk “menjajakan” dagangan fintech mereka.

Namun, risiko pelanggaran data dan keamanan aplikasi fintech terus terjadi. Bedanya, di negara maju sudah menerapkan peraturan harus meng-umumkan kejadian pelanggaran ke publik, sedangkan di Indonesia belum ada peraturan seperti itu.

Bahaya Pencurian Data Pelanggan

Aplikasi keuangan digital terkadang melibatkan data kartu kredit pengguna. Para penjahat cyber semakin canggih. Banyak penyedia jasa keuangan termasuk perbankan dan asuransi yang mengalami pencurian data pengguna.

Jika data kartu kredit di curi, tentulah para pencuri dapat menggunakan kartu kredit milik nasabah fintech. Dan akhirnya, nasabah fintech tersebut dirugikan.

Tidak hanya sampai di situ. Setelah data transaksi keuangan dan data kartu kredit di curi, para penyerang dapat menjual data anda ke pihak lain melalui situs darkweb.

Ini memang kondisi yang mengerikan!

Namun, hal tersebut dapat dicegah jika perusahaan fintech Indonesia mau mengikuti syarat kepatuhan yang sudah di tetapkan oleh pemerintah dan beberapa regulator seperti PCI DSS.

Pengguna Aplikasi Fintech Harus Ketahui Beberapa Hal Penting Ini

Sebagai pengguna aplikasi fintech, seseorang harus melihat kredibilitas perusahaan penyedia aplikasi fintech di Indonesia. Biasanya, di website mereka dapat terlihat sertifikasi yang ada.

Carilah sertifikasi keamanan data seperti ISO 27001, PCI DSS untuk keamanan kartu kredit, dan izin dari Otoritas Jasa Keuangan Indonesia.

Jika tidak, maka suatu saat sangat berkemungkinan besar bahwa data kartu kredit dan transaksi keuangan anda di curi dan digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Hal tersebut di atas merupakan faktor penting dalam memilih penyedia jasa layanan keuangan digital. Para pemegang kartu kredit yang akan memasukkan data kartu kredit ke website atau aplikasi apapun juga wajib memeriksa kredibilitas perusahaan penyedia jasa transaksi keuangan tersebut.

Pencurian Data Merupakan Isu Nomor 1 di Dunia

Di tahun 2016, serangan cyber dimulai dari DDoS yang telah menurunkan layanan di beberapa bank dan perusahaan fintech di dunia. Tahun 2017, malware seperti ransomware dan malware yang mencuri data hingga uang kripto semakin marak. Di pertengahan tahun 2017, pencurian data secara besar-besaran mulai menjadi berita utama.

Bahkan sebuah pelaporan data kartu kredit seperti Equifax harus terkena denda besar setelah gagal mengembalikan sistem yang diserang selama hampir satu tahun.

Negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia telah menjadi target utama serangan cyber dunia.

Oleh karena itu, sebagai pengguna kartu kredit, anda wajib berhati-hati dalam memilih penyedia jasa keuangan digital.

Selalu perhatikan sertifikasi keamanan IT dan keamanan transaksi keuangan yang mereka miliki. Hindari menggunakan aplikasi fintech yang tidak memiliki kejelasan cara pengamanan data kartu kredit anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s